Minggu, 18 Januari 2009
In:
cerpen
CERPEN : "CINTA ITU GILA!!"
CINTA ITU GILA
By : desthy_shk
Aku senang kamu ada di sini. Kamu selalu menemaniku di saat aku senang maupun sedih. Aku tahu kamu akan selalu menepati janjimu. Dulu kamu pernah berjanji padaku kalau kamu tidak akan pernah meninggalkanku selamanya dan kamu menepati janjimu itu.
Hanya kamulah yang dapat memahami aku. Tidak seperti mereka yang selalu memusuhiku, memandang sinis padaku dan memnganggap aku aneh. Mereka tidak pernah membiarkanku untuk bahagia. Teman-temanku, kakakku, bahkan mamaku pun ikut memusuhiku.
Hanya kamu yang baik padaku, hanya kamu yang mengerti aku, hanya kamu yang dapat ku ajak bicara, hanya kamu yang dapat membuatku tertawa. Hanya kamu yang mau mendengar segala keluh kesahku. Hanya kamu….
Aku sungguh tak memahami mereka. Kenapa mereka begitu membencimu. Mereka selalu menghalangiku untuk dapat bertemu denganmu. Mereka bilang aku tidak bisa menemuimu, aku tidak boleh menemuimu. Padahal sudah berkali-kali kukatakan pada mereka kalau kamu itu orang baik, tidak pernah menyakitiku dan aku percaya kamu tidak akan menyakitiku. Tapi mereka tidak pernah mau mendengar dan mengerti perasaanku.
Pernah suatu kali mama dan kakakku mengurungku di kamar agar tidak dapat dapat menemuimu. Saat itu aku sangat marah dan membanting semua barang yang ada di kamar. Namun mama tetap tidak membukakan pintu kamar. Mulai saat itulah aku membenci mereka. Mereka mengurungku sendirian di kamar. Tetapi aku tahu kamu tidak akan pernah membiarkanku sendirian. Saat itu kamu datang padaku dan menemaniku.
Maka dari itu, semenjak kejadian itu aku sembunyi-sembunyi untuk dapat bertemu denganmu. Aku pura-pura telah melupakanmu padahal sama sekali tidak. Aku tahu kamu pasti dapat memahami sikapku. Terkadang aku pura-pura tidak mengenalimu. Terkadang pula aku pura-pura tidak melihatmu. Tapi percayalah, itu semua hanya pura-pura. Aku akan terus dan terus mencintaimu. Aku berbuat seperti itu hanya agar mereka tidak terus mencoba memisahkan kamu dan aku. Kamu mengerti kan?
Ah, gawat. Itu Mama! Dia datang ke sini. Kamu cepat-cepatlah sembunyi! Aku tidak ingin mama melihatmu ada di sini.
“Liby, sedang apa kamu? Sepertinya sedang senang ya? Soalnya Mama lihat dari tadi kamu senyum-senyum terus.” Tanya Mama padaku.
“Ah tidak. Aku hanya teringat hal yang lucu.” Jawabku berbohong.
“Oh gitu. Ya sudah, ini obatmu, jangan lupa diminum ya! Mama mau ke dapur dulu menyiapkan makan malam.”
“Iya Ma.” Jawabku singkat.
Dan Mama pun akhirnya pergi, meninggalkanku sendirian di sini, eh tidak, tapi berdua denganmu. Hi..hi.. aku senang dapat menipu mama. Mama selalu menyuruhku minum obat, kata mama itu vitamin agar aku selalu sehat. Tapi aku kan baik-baik saja. Aku pikir aku tidak perlu minum vitamin itu. Aku ini tidak sakit jadi tidak perlu minum obat. Iya kan?
………………………………………
Sementara itu di dalam rumah, Mama Liby sedang memperhatikan anaknya yang sedang duduk di bangku halaman dari balik jendela. Tidak lama kemudian anak sulungnya, Radel, menghampirinya,
“Ma, apa tidak sebaiknya kita membawa Liby ke Rumah Sakit lagi. Sepertinya penyakit Liby kambuh lagi.” Kata Radel.
“Kambuh gimana? Menurut Mama Liby sudah lebih baik dari sebelumnya. Dia tidak pernah mengamuk lagi seperti dulu.”
“Tapi apa Mama tidak lihat? Dari tadi Liby tertawa dan tersenyum sendiri. Berarti dia belum sembuh, dia perlu perawatan khusus dari orang yang lebih berpengalaman.”
“Cukup Radel! Mama harus bilang berapa kali ke kamu, adikmu itu tidak gila, dia hanya belum bisa menerima kenyataan bahwa pacarnya sudah meninggal. Dia hanya perlu kasih sayang dan kesabaran kita sebagai kelurganya untuk menyadarkannya. Bukan dengan cara tinggal di rumah sakit yang dipenuhi oleh orang-orang tidak waras itu.”
Mama pun pergi ke kamarnya dan langsung mengunci pintu kamar tersebut. Radel tahu, pasti kini Mamanya sedang menangis di dalam kamar. Keluarga ini benar-benar sudah kacau. Adiknya, Liby, sering berhalusinasi bertemu pacarnya yang sudah meninggal. Mama juga tidak ingin menerima kenyataan bahwa Liby itu sakit. Sakit mental. Radel kesal dengan semua keadaan ini. Saat ini, Radel menjadi satu-satunya cowok di rumah ini semenjak ayahnya meninggal. Dia harus menjaga keluarga ini dengan baik. Tapi apa yang bisa ia lakukan sekarang? Radel hanya dapat menghela nafas.
Aku pernah dengar kalau cinta itu gila
Tapi aku baru tahu kalau cinta itu…
Benar-benar bisa membuat orang jadi gila……
By : desthy_shk
Aku senang kamu ada di sini. Kamu selalu menemaniku di saat aku senang maupun sedih. Aku tahu kamu akan selalu menepati janjimu. Dulu kamu pernah berjanji padaku kalau kamu tidak akan pernah meninggalkanku selamanya dan kamu menepati janjimu itu.
Hanya kamulah yang dapat memahami aku. Tidak seperti mereka yang selalu memusuhiku, memandang sinis padaku dan memnganggap aku aneh. Mereka tidak pernah membiarkanku untuk bahagia. Teman-temanku, kakakku, bahkan mamaku pun ikut memusuhiku.
Hanya kamu yang baik padaku, hanya kamu yang mengerti aku, hanya kamu yang dapat ku ajak bicara, hanya kamu yang dapat membuatku tertawa. Hanya kamu yang mau mendengar segala keluh kesahku. Hanya kamu….
Aku sungguh tak memahami mereka. Kenapa mereka begitu membencimu. Mereka selalu menghalangiku untuk dapat bertemu denganmu. Mereka bilang aku tidak bisa menemuimu, aku tidak boleh menemuimu. Padahal sudah berkali-kali kukatakan pada mereka kalau kamu itu orang baik, tidak pernah menyakitiku dan aku percaya kamu tidak akan menyakitiku. Tapi mereka tidak pernah mau mendengar dan mengerti perasaanku.
Pernah suatu kali mama dan kakakku mengurungku di kamar agar tidak dapat dapat menemuimu. Saat itu aku sangat marah dan membanting semua barang yang ada di kamar. Namun mama tetap tidak membukakan pintu kamar. Mulai saat itulah aku membenci mereka. Mereka mengurungku sendirian di kamar. Tetapi aku tahu kamu tidak akan pernah membiarkanku sendirian. Saat itu kamu datang padaku dan menemaniku.
Maka dari itu, semenjak kejadian itu aku sembunyi-sembunyi untuk dapat bertemu denganmu. Aku pura-pura telah melupakanmu padahal sama sekali tidak. Aku tahu kamu pasti dapat memahami sikapku. Terkadang aku pura-pura tidak mengenalimu. Terkadang pula aku pura-pura tidak melihatmu. Tapi percayalah, itu semua hanya pura-pura. Aku akan terus dan terus mencintaimu. Aku berbuat seperti itu hanya agar mereka tidak terus mencoba memisahkan kamu dan aku. Kamu mengerti kan?
Ah, gawat. Itu Mama! Dia datang ke sini. Kamu cepat-cepatlah sembunyi! Aku tidak ingin mama melihatmu ada di sini.
“Liby, sedang apa kamu? Sepertinya sedang senang ya? Soalnya Mama lihat dari tadi kamu senyum-senyum terus.” Tanya Mama padaku.
“Ah tidak. Aku hanya teringat hal yang lucu.” Jawabku berbohong.
“Oh gitu. Ya sudah, ini obatmu, jangan lupa diminum ya! Mama mau ke dapur dulu menyiapkan makan malam.”
“Iya Ma.” Jawabku singkat.
Dan Mama pun akhirnya pergi, meninggalkanku sendirian di sini, eh tidak, tapi berdua denganmu. Hi..hi.. aku senang dapat menipu mama. Mama selalu menyuruhku minum obat, kata mama itu vitamin agar aku selalu sehat. Tapi aku kan baik-baik saja. Aku pikir aku tidak perlu minum vitamin itu. Aku ini tidak sakit jadi tidak perlu minum obat. Iya kan?
………………………………………
Sementara itu di dalam rumah, Mama Liby sedang memperhatikan anaknya yang sedang duduk di bangku halaman dari balik jendela. Tidak lama kemudian anak sulungnya, Radel, menghampirinya,
“Ma, apa tidak sebaiknya kita membawa Liby ke Rumah Sakit lagi. Sepertinya penyakit Liby kambuh lagi.” Kata Radel.
“Kambuh gimana? Menurut Mama Liby sudah lebih baik dari sebelumnya. Dia tidak pernah mengamuk lagi seperti dulu.”
“Tapi apa Mama tidak lihat? Dari tadi Liby tertawa dan tersenyum sendiri. Berarti dia belum sembuh, dia perlu perawatan khusus dari orang yang lebih berpengalaman.”
“Cukup Radel! Mama harus bilang berapa kali ke kamu, adikmu itu tidak gila, dia hanya belum bisa menerima kenyataan bahwa pacarnya sudah meninggal. Dia hanya perlu kasih sayang dan kesabaran kita sebagai kelurganya untuk menyadarkannya. Bukan dengan cara tinggal di rumah sakit yang dipenuhi oleh orang-orang tidak waras itu.”
Mama pun pergi ke kamarnya dan langsung mengunci pintu kamar tersebut. Radel tahu, pasti kini Mamanya sedang menangis di dalam kamar. Keluarga ini benar-benar sudah kacau. Adiknya, Liby, sering berhalusinasi bertemu pacarnya yang sudah meninggal. Mama juga tidak ingin menerima kenyataan bahwa Liby itu sakit. Sakit mental. Radel kesal dengan semua keadaan ini. Saat ini, Radel menjadi satu-satunya cowok di rumah ini semenjak ayahnya meninggal. Dia harus menjaga keluarga ini dengan baik. Tapi apa yang bisa ia lakukan sekarang? Radel hanya dapat menghela nafas.
Aku pernah dengar kalau cinta itu gila
Tapi aku baru tahu kalau cinta itu…
Benar-benar bisa membuat orang jadi gila……
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
0 komentar:
Posting Komentar