Anak adalah anugrah 6
Tiba-tiba aku teringat dengan film-film yang pernah aku tonton

Yang pertama film berjudul "My Father".
Film itu bercerita tentang seorang anak korea yang diadopsi oleh keluarga amerika sejak kecil. Tapi setelah dewasa dia ingin mencari orangtua kandungnya di korea. Anak itu lalu melakukan berbagai cara untuk mencari orangtua kandungnya, dimulai dari mengunjungi panti asuhan tempat dia dulu diadopsi, lalu ikut acara tivi untuk mencari orang yang hilang, dan lain-lain. Hingga pada akhirnya dia mendapat kabar bahwa ayah kandungnya adalah napi terpidana mati. Anak itu pun pergi menemui ayah kandungnya di penjara. Sejak itu dia jadi sering mengunjungi ayahnya di penjara dengan membawa temannya sebagai penerjemah karena ia tidak bisa bahasa korea, dan karena itu juga ia giat belajar bahasa korea. Seiring berjalan waktu, mereka berdua menjadi dekat. Dan diakhir cerita diketahui dari tes DNA bahwa orang itu bukanlah ayah kandungnya. Tapi setelah mengetahui hal itu, anak itu malah menghampiri sang ayah dan berkata "Ayah, Kau adalah ayahku. Aku menyayangimu, Ayah". Dan kalimat itu adalah kalimat terakhir yang diucapkan sang anak kepada ayahnya sebelum ayahnya dihukum mati.




Film kedua berjudul "1 day with My Son"
Ceritanya tentang seorang laki-laki terpidana mati yang punya keinginan terakhir sebelum dieksekusi yaitu bertemu anaknya. Terakhir kali ia melihat anaknya adalah ketika anaknya masih bayi dan itu sudah sekitar 17 tahun yang lalu. Setelah diijinkan oleh pihak penjara, laki-laki itupun pergi menemui anaknya dengan didampingi oleh seorang sipir penjara. Tapi pertemuan dengan anaknya tidak seperti yang diharapkanya, selain karena istrinya atau ibu sang anak yang telah tiada, anaknya juga sepertinya tidak senang bertemu dengannya. Selama 1 hari penuh anaknya bersikap ketus padanya. Baru setelah fajar tiba, mereka berdua lari pagi bersama,karena hujan, mereka berteduh di dalam teleponbox. di telepon box itulah mereka akhirnya saling mencurahkan isi hati. Ketika tiba saatnya sang ayah harus kembali ke penjara tiba-tiba ia menyadari bahwa yang selama ini bersamanya ternyata bukanlah anaknya. Akhirnya anak itupun mengaku bahwa dia adalah teman anaknya, anaknya yang sebenarnya telah meninggal karena sakit, tapi anaknya itu selama ini berkeinginan bertemu ayahnya, maka dari itu temannya itu mewakilinya untuk bertemu ayahnya.



Film ketiga berjudul "Maundy Tuesday"
Film yang ini bercerita tentang seorang gadis yang mempunyai pengalaman buruk di masa kecilnya, dan karena pengalamannya itu ia jadi membenci ibunya dan sering mencoba untuk membunuh dirinya sendiri. Karena suatu hal ia bertemu dengan dengan seorang lelaki terpidana mati yang sebenarnya sama sekali tidak ingin mati. Lelaki itu dihukum atas tindakan yang tidak ia lakukan. Tapi ia pasrah menerima nasib yang menimpa. Lelaki itu juga punya kisah hidup yang menyedihkan. Ia dan Adiknya ditelantarkan oleh orangtuanya, ibunya tidak ingin mengakuinya dan dia harus merawat adiknya sendirian. Dan pada akhirnya adiknya itu mati saat mereka tidur dipinggir jalan karena lapar dan kedinginan. Semenjak itu hidup lelaki itu tak tentu arah, ia berteman dengan seorang perampok dan pembunuh yang menyebabkan ia dipenjara kini. Lelaki itu sangat menyesal dengan apa yang dilakukan oleh temannya karena menyebabkan seseorang mati. Ia pun meminta maaf pada ibu korban. Dari lelaki itu, sang gadis menerima pelajaran bahwa bukan hanya dia yang mengalami nasib buruk, masih banyak orang yang hidupnya lebih menyedihkan dari pada dia, untuk itu ia kini lebih menghargai hidup ini dan bersyukur karena ia masih memiliki ibu yang masih mengakuinya. Diakhir cerita, gadis itu mau memaafkan ibunya dan berusaha menyelamatkan lelaki itu dari hukuman mati. Tapi usahanya sia-sia, lelaki itu tetap harus menjalani hukuman itu.



Ketiga film itu mempunyai satu persamaan. Yaitu ada seorang tokoh terpidana mati. Dari ketiga tokoh itu kita tahu, ternyata seorang terpidana matipun masih mempunyai hati. Mereka masih memiliki rasa kasih sayang terhadap sesama, terutama keluarga khususnya anaknya. Ada pepatah yang mengatakan "Segalak-galaknya harimau tidak akan memakan anaknya sendiri" (kalau ga salah). Harimau saja yang binatang akan menyayangi anaknya apalagi kita manusia. Berarti jika ada orang yang tega membunuh anaknya sendiri, berarti dia bukan manusia.
Dari ketiga cerita itu kita pun tahu, seorang anak, walau telah ditinggalkan oleh orangtuanya, walau telah dikecewakan orangtuanya, tetap akan merindukan dan menyayangi orangtuanya. Walau dalam mulut dia berkata benci, tapi di dalam hati nuraninya pasti ia berkata lain. Seorang anak akan tetap mencintai orangtuanya karena bagaimanapun jika tanpa orang tua mereka, mereka tidak akan hidup di dunia ini.
Tokoh Ayah dalam cerita-cerita tersebut menunjukkan kasih sayang yang besar pada anaknya. Padahal itu baru seorang ayah, yang tidak mengandung anaknya, yang tidak melahirkan anaknya, yang tidak menyusui anaknya. Apalagi seorang ibu. Ibu yang mengandung, yang melahirkan, yang menyusui, yang merawat, yang kata Rasulullah "Sayangilah ibumu, ibumu, ibumu, lalu Ayahmu!". Artinya Ibu mempunyai tiga tingkat lebih tinggi derajatnya di mata agama. Itu berarti menjadi seorang ibu adalah kedudukan yang membanggakan. Bahkan ada pepatah lagi yang mengatakan "Surga ada ditelapak kaki ibu", itu menunjukkan betapa tingginya derajat seorang ibu. Bahkan seorang ibu dikatakan mati syahid jika ia meninggal dalam keadaan sedang melahirkan. Subhanallah, begitu penting peran ibu di mata Allah, Rasulullah, dan semua umat manusia di dunia ini. Tapi yang mengherankan, mengapa masih banyak wanita yang enggan menjadi ibu, malu menjadi ibu, dan dengan mudahnya menggugurkan kandungannya. Terlalu gemerlapkah keindahan dunia ini hingga mereka seakan lupa anugrah yang telah diberikan Allah untuk mereka, dan lupa akan hukuman yang telah menantinya di akhirat kelak.
Aku hanya berdoa semoga tidak ada lagi para wanita yang enggan menjadi ibu dan mau membesarkan banyak anak.
Amin........................

Yang pertama film berjudul "My Father".
Film itu bercerita tentang seorang anak korea yang diadopsi oleh keluarga amerika sejak kecil. Tapi setelah dewasa dia ingin mencari orangtua kandungnya di korea. Anak itu lalu melakukan berbagai cara untuk mencari orangtua kandungnya, dimulai dari mengunjungi panti asuhan tempat dia dulu diadopsi, lalu ikut acara tivi untuk mencari orang yang hilang, dan lain-lain. Hingga pada akhirnya dia mendapat kabar bahwa ayah kandungnya adalah napi terpidana mati. Anak itu pun pergi menemui ayah kandungnya di penjara. Sejak itu dia jadi sering mengunjungi ayahnya di penjara dengan membawa temannya sebagai penerjemah karena ia tidak bisa bahasa korea, dan karena itu juga ia giat belajar bahasa korea. Seiring berjalan waktu, mereka berdua menjadi dekat. Dan diakhir cerita diketahui dari tes DNA bahwa orang itu bukanlah ayah kandungnya. Tapi setelah mengetahui hal itu, anak itu malah menghampiri sang ayah dan berkata "Ayah, Kau adalah ayahku. Aku menyayangimu, Ayah". Dan kalimat itu adalah kalimat terakhir yang diucapkan sang anak kepada ayahnya sebelum ayahnya dihukum mati.




Film kedua berjudul "1 day with My Son"
Ceritanya tentang seorang laki-laki terpidana mati yang punya keinginan terakhir sebelum dieksekusi yaitu bertemu anaknya. Terakhir kali ia melihat anaknya adalah ketika anaknya masih bayi dan itu sudah sekitar 17 tahun yang lalu. Setelah diijinkan oleh pihak penjara, laki-laki itupun pergi menemui anaknya dengan didampingi oleh seorang sipir penjara. Tapi pertemuan dengan anaknya tidak seperti yang diharapkanya, selain karena istrinya atau ibu sang anak yang telah tiada, anaknya juga sepertinya tidak senang bertemu dengannya. Selama 1 hari penuh anaknya bersikap ketus padanya. Baru setelah fajar tiba, mereka berdua lari pagi bersama,karena hujan, mereka berteduh di dalam teleponbox. di telepon box itulah mereka akhirnya saling mencurahkan isi hati. Ketika tiba saatnya sang ayah harus kembali ke penjara tiba-tiba ia menyadari bahwa yang selama ini bersamanya ternyata bukanlah anaknya. Akhirnya anak itupun mengaku bahwa dia adalah teman anaknya, anaknya yang sebenarnya telah meninggal karena sakit, tapi anaknya itu selama ini berkeinginan bertemu ayahnya, maka dari itu temannya itu mewakilinya untuk bertemu ayahnya.



Film ketiga berjudul "Maundy Tuesday"
Film yang ini bercerita tentang seorang gadis yang mempunyai pengalaman buruk di masa kecilnya, dan karena pengalamannya itu ia jadi membenci ibunya dan sering mencoba untuk membunuh dirinya sendiri. Karena suatu hal ia bertemu dengan dengan seorang lelaki terpidana mati yang sebenarnya sama sekali tidak ingin mati. Lelaki itu dihukum atas tindakan yang tidak ia lakukan. Tapi ia pasrah menerima nasib yang menimpa. Lelaki itu juga punya kisah hidup yang menyedihkan. Ia dan Adiknya ditelantarkan oleh orangtuanya, ibunya tidak ingin mengakuinya dan dia harus merawat adiknya sendirian. Dan pada akhirnya adiknya itu mati saat mereka tidur dipinggir jalan karena lapar dan kedinginan. Semenjak itu hidup lelaki itu tak tentu arah, ia berteman dengan seorang perampok dan pembunuh yang menyebabkan ia dipenjara kini. Lelaki itu sangat menyesal dengan apa yang dilakukan oleh temannya karena menyebabkan seseorang mati. Ia pun meminta maaf pada ibu korban. Dari lelaki itu, sang gadis menerima pelajaran bahwa bukan hanya dia yang mengalami nasib buruk, masih banyak orang yang hidupnya lebih menyedihkan dari pada dia, untuk itu ia kini lebih menghargai hidup ini dan bersyukur karena ia masih memiliki ibu yang masih mengakuinya. Diakhir cerita, gadis itu mau memaafkan ibunya dan berusaha menyelamatkan lelaki itu dari hukuman mati. Tapi usahanya sia-sia, lelaki itu tetap harus menjalani hukuman itu.



Ketiga film itu mempunyai satu persamaan. Yaitu ada seorang tokoh terpidana mati. Dari ketiga tokoh itu kita tahu, ternyata seorang terpidana matipun masih mempunyai hati. Mereka masih memiliki rasa kasih sayang terhadap sesama, terutama keluarga khususnya anaknya. Ada pepatah yang mengatakan "Segalak-galaknya harimau tidak akan memakan anaknya sendiri" (kalau ga salah). Harimau saja yang binatang akan menyayangi anaknya apalagi kita manusia. Berarti jika ada orang yang tega membunuh anaknya sendiri, berarti dia bukan manusia.
Dari ketiga cerita itu kita pun tahu, seorang anak, walau telah ditinggalkan oleh orangtuanya, walau telah dikecewakan orangtuanya, tetap akan merindukan dan menyayangi orangtuanya. Walau dalam mulut dia berkata benci, tapi di dalam hati nuraninya pasti ia berkata lain. Seorang anak akan tetap mencintai orangtuanya karena bagaimanapun jika tanpa orang tua mereka, mereka tidak akan hidup di dunia ini.
Tokoh Ayah dalam cerita-cerita tersebut menunjukkan kasih sayang yang besar pada anaknya. Padahal itu baru seorang ayah, yang tidak mengandung anaknya, yang tidak melahirkan anaknya, yang tidak menyusui anaknya. Apalagi seorang ibu. Ibu yang mengandung, yang melahirkan, yang menyusui, yang merawat, yang kata Rasulullah "Sayangilah ibumu, ibumu, ibumu, lalu Ayahmu!". Artinya Ibu mempunyai tiga tingkat lebih tinggi derajatnya di mata agama. Itu berarti menjadi seorang ibu adalah kedudukan yang membanggakan. Bahkan ada pepatah lagi yang mengatakan "Surga ada ditelapak kaki ibu", itu menunjukkan betapa tingginya derajat seorang ibu. Bahkan seorang ibu dikatakan mati syahid jika ia meninggal dalam keadaan sedang melahirkan. Subhanallah, begitu penting peran ibu di mata Allah, Rasulullah, dan semua umat manusia di dunia ini. Tapi yang mengherankan, mengapa masih banyak wanita yang enggan menjadi ibu, malu menjadi ibu, dan dengan mudahnya menggugurkan kandungannya. Terlalu gemerlapkah keindahan dunia ini hingga mereka seakan lupa anugrah yang telah diberikan Allah untuk mereka, dan lupa akan hukuman yang telah menantinya di akhirat kelak.
Aku hanya berdoa semoga tidak ada lagi para wanita yang enggan menjadi ibu dan mau membesarkan banyak anak.
Amin........................
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
0 komentar:
Posting Komentar