Kamis, 18 Juni 2009
In:
cerpen
Cerpen : "Luka"
By: desthy_shk
Sudah dua hari dia mengurung diri di kamar. Tidak makan, tidak minum, tidak berbicara sedikitpun. Hanya menangis dan terus menangis. Hatinya belum bisa menerima kepergian sang pujaan hati.
Kucoba untuk membujuknya makan, tapi dia tidak mau. Dia marah, dia menangis, lalu diam. Dan akhirnya bicara
“Kenapa dia meninggalkanku? Sudah kukatakan padanya agar menjauhi barang haram itu, tapi dia tak mau mendengar. Dia sudah berjanji akan berubah, tapi malah berakhir seperti ini. Sekarang aku harus bagaimana? Aku tidak bisa hidup tanpanya. Aku harus bagaimana?”
Dia menoleh padaku, bertanya padaku. Namun kuhanya diam. Tak tahu harus berkata apa. Yang kulakukan hanya menatapnya, sambil menahan sakit, sakit di dada, sakit di hati. Dialah yang menangis tapi hatiku yang tersiksa.
Ku mengutuk si brengsek yang membuatnya menjadi seperti ini. Dia dulu milikku. Dan akan tetap milikku bila si brengsek itu tak merebutnya. Semenjak mengenal orang itu, dia tak pernah tertawa, tak pernah tersenyum, tak pernah menghiraukanku.
Dia menolak cinta yang kuberikan dengan tulus, dengan sepenuh hati. Tapi dia lebih memilihnya. Padahal yang diberikannya hanya luka, hanya airmata, hanya penderitaan.
Kini orang itu telah pergi, dibunuh oleh sesuatu yang dianggapnya ‘teman’. Teman yang menjerumuskan, teman yang menyesatkan, teman yang membuatnya pergi untuk selamanya. Teman yang bernama Narkoba. Bahkan dia lebih mencintai ‘temannya’ daripada kekasihnya. Dia rela meninggalkan kekasihnya daripada jauh dari ‘temannya’.
Kulihat dia tertidur. Mungkin dia sudah lelah menangis. Wajahnya pucat. Tak seperti dulu.
Yang selalu riang, selalu ceria. Bahkan aku hampir lupa dengan senyumannya.
Kutinggalkan dia sendiri. Menenangkan diri. kuharap ia akan melupakannya. Perlahan tapi pasti. Detik ke detik. Menit ke menit. Hari ke hari. Bayangannya akan terhapus dari ingatannya. Dan bila saat itu tiba, aku akan disisinya. Menjaganya, melindunginya. Tak akan ada lagi air mata, tak akan ada lagi luka. Yang ada hanya bahagia.
¬¬¬_____________________________
Esoknya kumenghampirinya lagi. Tapi ada apa ini? Begitu banyak orang. Semua panik, semua menangis, semua menjerit. Aku bergegas, berlari, menaiki tangga, menerobos kerumununan orang.
Ku berdiri di depan pintu kamarnya. Terpaku, mematung, tak dapat bergerak, tak percaya dengan yang kulihat. Dia ada di sana. Tergeletak. Tangan kanannya memegang pisau, tangan kirinya berlumuran darah.
Kupaksa kakiku tuk melangkah. Perlahan mendekatinya. Semakin dekat. Ku menunduk. Memeriksa denyut nadinya, memeriksa detak jatungnya, memeriksa nafas yang keluar dari hidungnya. Semua nihil. Semua gagal. Tak ada harapan. Semua sudah terlambat. Dia telah pergi. Dia sengaja pergi. Meniggalkan semuanya, meninggalkan orang-orang yang mencintainya, meninggalkan … aku.
Kulihat tangan kirinya menggenggam secarik kertas. Kertas yang berlumuran darah. Ku mengambilnya, membukanya, membacanya.

Sudah dua hari dia mengurung diri di kamar. Tidak makan, tidak minum, tidak berbicara sedikitpun. Hanya menangis dan terus menangis. Hatinya belum bisa menerima kepergian sang pujaan hati.
Kucoba untuk membujuknya makan, tapi dia tidak mau. Dia marah, dia menangis, lalu diam. Dan akhirnya bicara
“Kenapa dia meninggalkanku? Sudah kukatakan padanya agar menjauhi barang haram itu, tapi dia tak mau mendengar. Dia sudah berjanji akan berubah, tapi malah berakhir seperti ini. Sekarang aku harus bagaimana? Aku tidak bisa hidup tanpanya. Aku harus bagaimana?”
Dia menoleh padaku, bertanya padaku. Namun kuhanya diam. Tak tahu harus berkata apa. Yang kulakukan hanya menatapnya, sambil menahan sakit, sakit di dada, sakit di hati. Dialah yang menangis tapi hatiku yang tersiksa.
Ku mengutuk si brengsek yang membuatnya menjadi seperti ini. Dia dulu milikku. Dan akan tetap milikku bila si brengsek itu tak merebutnya. Semenjak mengenal orang itu, dia tak pernah tertawa, tak pernah tersenyum, tak pernah menghiraukanku.
Dia menolak cinta yang kuberikan dengan tulus, dengan sepenuh hati. Tapi dia lebih memilihnya. Padahal yang diberikannya hanya luka, hanya airmata, hanya penderitaan.
Kini orang itu telah pergi, dibunuh oleh sesuatu yang dianggapnya ‘teman’. Teman yang menjerumuskan, teman yang menyesatkan, teman yang membuatnya pergi untuk selamanya. Teman yang bernama Narkoba. Bahkan dia lebih mencintai ‘temannya’ daripada kekasihnya. Dia rela meninggalkan kekasihnya daripada jauh dari ‘temannya’.
Kulihat dia tertidur. Mungkin dia sudah lelah menangis. Wajahnya pucat. Tak seperti dulu.
Yang selalu riang, selalu ceria. Bahkan aku hampir lupa dengan senyumannya.
Kutinggalkan dia sendiri. Menenangkan diri. kuharap ia akan melupakannya. Perlahan tapi pasti. Detik ke detik. Menit ke menit. Hari ke hari. Bayangannya akan terhapus dari ingatannya. Dan bila saat itu tiba, aku akan disisinya. Menjaganya, melindunginya. Tak akan ada lagi air mata, tak akan ada lagi luka. Yang ada hanya bahagia.
¬¬¬_____________________________
Esoknya kumenghampirinya lagi. Tapi ada apa ini? Begitu banyak orang. Semua panik, semua menangis, semua menjerit. Aku bergegas, berlari, menaiki tangga, menerobos kerumununan orang.
Ku berdiri di depan pintu kamarnya. Terpaku, mematung, tak dapat bergerak, tak percaya dengan yang kulihat. Dia ada di sana. Tergeletak. Tangan kanannya memegang pisau, tangan kirinya berlumuran darah.
Kupaksa kakiku tuk melangkah. Perlahan mendekatinya. Semakin dekat. Ku menunduk. Memeriksa denyut nadinya, memeriksa detak jatungnya, memeriksa nafas yang keluar dari hidungnya. Semua nihil. Semua gagal. Tak ada harapan. Semua sudah terlambat. Dia telah pergi. Dia sengaja pergi. Meniggalkan semuanya, meninggalkan orang-orang yang mencintainya, meninggalkan … aku.
Kulihat tangan kirinya menggenggam secarik kertas. Kertas yang berlumuran darah. Ku mengambilnya, membukanya, membacanya.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
0 komentar:
Posting Komentar