Rabu, 14 April 2010
In:
renungan
10 Menit Menggapai Surga
10 menit memang bukanlah waktu yang lama. Ia hanya selintas dari kisaran waktu yang demikian panjang, hanya sekelumit dari hamparan masa yang membentang, dan hanya sepenggal dari kumpulan detik-detik usia manusia.
Yang membedakan antara orang pandai dan orang bodoh adalah sejauh mana keberhasilan memanfaatkan waktu yang dimilikinya sebaik-baiknya. Orang pandai dapat memanfaatkan waktu sesingkat mungkin untuk menghasilkan karya semulia mumgkin. Bagi orang bodoh sepuluh menit adalah waktu yang terlalu sedikit, terlalu pendek, dan tidak memiliki makna apa-apa.
Bagi orang mulia, ternyata waktu yang hanya sepuluh menit itu dapat menghasilkan arti yang luar biasa. Mereka memanfaatkannya dengan sebaik-baiknya, tanpa sedikitpun menyia-nyiakannya. Sehingg dengan 10 menit itu mereka berhasil menggapai kenikmatan dan kebahagiaan hakiki nan abadi.
Sebagai contoh adalah dalam waktu sepuluh menit,dapat digunakan untuk membaca tasbih sebanyak seratus kali. Jika dilakukan secara kontinyu setiap hari, maka dalam setahun telah membaca tasbih sebanyak 36500 kali.
Begitu pula dengan membaca Al-Qur’an, jika kita membaca Al-Qur’an dalam waktu sepuluh menit setiap harinya, maka kita akan dapat mengkhatamkan Al-Qur’an tiap dua bulan sekali.
Selain itu dalam waktu kurang dari sepuluh menit, kita dapat melakukan wudhu kemudian menjalankan shalat dhuha. Para guru dapat melaksanakannya ketika terdapat waktu senggang atau kosong (waktu istirahat mengajar). Begitu juga para pegawai, apabila ada kesempatan yang tidak menganggu terhadap pekerjaannya. Sedangkan bagi orang yang tinggal di rumah, maka ia dapat lebih leluasa untuk melaksanakan shalat dhuha tersebut.
Andai seseorang dalam setiap hari berusaha untuk menghafal satu ayat saja dari Al-Qur’an, maka dia akan dapat menghafalnya dalam waktu delapan tahun.
Selain contoh-contoh di atas, masih banyak lagi yang dapat kita lakukan dalam waktu sepuluh menit. Yaitu berdzikir kepada Allah SWT, bershalawat terhadap Nabi Muhammad SAW, mengerjakan shalat sunnah, berdo’a, bersodaqoh, silaturahim, membaca buku islami, dan lain-lain.
Namun,sepuluh menit itu tidak harus dilakukan satu kali dalam sehari. Bisa jadi kita mempunyai waktu luang setelah fajar, setelah dhuha, setelah shalat dzuhur, setelah shalat ashar, atau sebelum tidur.
Waktu layaknya harta. Keduanya harus dijaga, dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya, dan diatur dengan secermat-cermatnya. Namun ada perbedaan antara keduanya, harta dapat dikumpulkan, disimpan, dan apabila hilang, dapat dicarikan penggantinya. Tetapi lain halnya dengan waktu. Setiap yang datang harus segera dimanfaatkan, ia tidak bisa disimpan. Setiap menit dan detik yang hilang tidak akan pernah kembali lagi untuk selama-lamanya. Meskipun, hal itu ditebus dengan seluruh harta dunia.
Harga harta ditentukan oleh nilainya, tetapi harga waktu ditentukan oleh kualitas penggunaannya. Pada umunya setiap orang paham dan sadar atas berharganya harta. Tetapi sayang, hanya sedikit dari mereka yang paham dan sadar atas berharganya waktu. Hal ini terbukti, banyaknya orang yang menghabiskan waktunya secara sia-sia, dengan tanpa merasa sesal dan dosa. Mereka mengawali hari-harinya dengan kemalasan, kemudian mngakhirinya dengan tanpa amal kebajikan. Hari-hari seperti ini terus berlalu dengan tanpa adanya perubahan, hingga akhirnya dijemputlah ia oleh kematian, dan kematianlah yang menyadarkannya bahwa ternyata setiap detik dari perjalanan usianya diminta pertanggungjawaban oleh-Nya.
Oleh karena itu,marilah kita memanfaatkan dengan sebaik-baiknya waktu yang ada sehingga kita dapat menggapai prestasi amal terbaik dan termulia. Bahkan dengan sepuluh menit dari waktu yang ada, kita dapat berhasil menggapai surga-Nya, Insya Allah.
sumber :
DENGAN 10 MENIT MENGGAPAI SURGA
Syaikh Abdul Malik Al-Qasim
Yang membedakan antara orang pandai dan orang bodoh adalah sejauh mana keberhasilan memanfaatkan waktu yang dimilikinya sebaik-baiknya. Orang pandai dapat memanfaatkan waktu sesingkat mungkin untuk menghasilkan karya semulia mumgkin. Bagi orang bodoh sepuluh menit adalah waktu yang terlalu sedikit, terlalu pendek, dan tidak memiliki makna apa-apa.
Bagi orang mulia, ternyata waktu yang hanya sepuluh menit itu dapat menghasilkan arti yang luar biasa. Mereka memanfaatkannya dengan sebaik-baiknya, tanpa sedikitpun menyia-nyiakannya. Sehingg dengan 10 menit itu mereka berhasil menggapai kenikmatan dan kebahagiaan hakiki nan abadi.
Sebagai contoh adalah dalam waktu sepuluh menit,dapat digunakan untuk membaca tasbih sebanyak seratus kali. Jika dilakukan secara kontinyu setiap hari, maka dalam setahun telah membaca tasbih sebanyak 36500 kali.
Begitu pula dengan membaca Al-Qur’an, jika kita membaca Al-Qur’an dalam waktu sepuluh menit setiap harinya, maka kita akan dapat mengkhatamkan Al-Qur’an tiap dua bulan sekali.
Selain itu dalam waktu kurang dari sepuluh menit, kita dapat melakukan wudhu kemudian menjalankan shalat dhuha. Para guru dapat melaksanakannya ketika terdapat waktu senggang atau kosong (waktu istirahat mengajar). Begitu juga para pegawai, apabila ada kesempatan yang tidak menganggu terhadap pekerjaannya. Sedangkan bagi orang yang tinggal di rumah, maka ia dapat lebih leluasa untuk melaksanakan shalat dhuha tersebut.
Andai seseorang dalam setiap hari berusaha untuk menghafal satu ayat saja dari Al-Qur’an, maka dia akan dapat menghafalnya dalam waktu delapan tahun.
Selain contoh-contoh di atas, masih banyak lagi yang dapat kita lakukan dalam waktu sepuluh menit. Yaitu berdzikir kepada Allah SWT, bershalawat terhadap Nabi Muhammad SAW, mengerjakan shalat sunnah, berdo’a, bersodaqoh, silaturahim, membaca buku islami, dan lain-lain.
Namun,sepuluh menit itu tidak harus dilakukan satu kali dalam sehari. Bisa jadi kita mempunyai waktu luang setelah fajar, setelah dhuha, setelah shalat dzuhur, setelah shalat ashar, atau sebelum tidur.
Waktu layaknya harta. Keduanya harus dijaga, dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya, dan diatur dengan secermat-cermatnya. Namun ada perbedaan antara keduanya, harta dapat dikumpulkan, disimpan, dan apabila hilang, dapat dicarikan penggantinya. Tetapi lain halnya dengan waktu. Setiap yang datang harus segera dimanfaatkan, ia tidak bisa disimpan. Setiap menit dan detik yang hilang tidak akan pernah kembali lagi untuk selama-lamanya. Meskipun, hal itu ditebus dengan seluruh harta dunia.
Harga harta ditentukan oleh nilainya, tetapi harga waktu ditentukan oleh kualitas penggunaannya. Pada umunya setiap orang paham dan sadar atas berharganya harta. Tetapi sayang, hanya sedikit dari mereka yang paham dan sadar atas berharganya waktu. Hal ini terbukti, banyaknya orang yang menghabiskan waktunya secara sia-sia, dengan tanpa merasa sesal dan dosa. Mereka mengawali hari-harinya dengan kemalasan, kemudian mngakhirinya dengan tanpa amal kebajikan. Hari-hari seperti ini terus berlalu dengan tanpa adanya perubahan, hingga akhirnya dijemputlah ia oleh kematian, dan kematianlah yang menyadarkannya bahwa ternyata setiap detik dari perjalanan usianya diminta pertanggungjawaban oleh-Nya.
Oleh karena itu,marilah kita memanfaatkan dengan sebaik-baiknya waktu yang ada sehingga kita dapat menggapai prestasi amal terbaik dan termulia. Bahkan dengan sepuluh menit dari waktu yang ada, kita dapat berhasil menggapai surga-Nya, Insya Allah.
sumber :
DENGAN 10 MENIT MENGGAPAI SURGA
Syaikh Abdul Malik Al-Qasim
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
0 komentar:
Posting Komentar